expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 02 Agustus 2010

BELAJAR DARI TUKIJAN ( SEBUAH PERUMPAMAAN ) DALAM REALITAS

Tukijan seorang mahasiswa semester 1, berpenampilan sederhana, suka
berorganisasi semasa SLTA, sangat kritis terhadap kebijakan dosen yang
tidak disiplin di kampus tempat ia menimba ilmu.


Waktu perkuliahan dimulai, sekitar pukul 09.30 wib, dosen membuka
salam didepan kelas, selesai dosen membuka salam, Tukijan angkat
tangan dan mengatakan pada dosenya, Maaf buk, seperti komitmen kita
diawal perkuliahan, waktu ibuk memperkenalkan diri dan membuat aturan,
bahwa 10 menit mahasiswa terlambat masuk kelas dari jadwal yang telah
tertera di silabus, maka mahasiswa yang bersangkutan tidak dibenarkan
mengikuti perkuliahan dan 3 kali mahasiswa tersebut tidak mengkikuti
perkuliahan dengan mata kuliah yang sama, maka mahasiswa tersebut
tidak dibolehkan mengikuti ujian, meskipun itu kebijakan sepihak,
karena ibu memiliki otoritas sebagai dosen, maka kebijakan itu wajib
kami terima.

Apa yang kami dapatkan sekarang, ibuk terlambat datang 1 jam tanpa
keterangan dan kami sudah gelisah menunggu, sehingga muncul
pertanyaan, Apakah aturan itu bisa diberlakukan pula sama ibuk? kami
minta diganti dengan dosen yang lain untuk mata perkuliahan ini,
sebagai sanksi dari pelanggaran ketidak disiplinan ibuk. Sebagai
dosen, ibuk adalah role model bagi kami, ibuk seharusnya memberikan
teladan yang baik dikampus ini.

Mohon maaf buk, bangsa kita ini tertinggal oleh jepang, cina dan
singapura, karena tidak menghargai waktu dan pemimpin kita tidak
komitmen dengan kebijakan yang telah mereka buat. Jika ibuk seorang
intelektual yang bijaksana, maka ibuk tidak akan marah mendengar
kritikan saya, tetapi ibuk akan mengoreksi diri tentang aturan main
yang telah ibuk buat.

Kasus diatas, hanya segelintir tentang bentuk ketidak disiplinan yang
ada dilingkungan kampus, tempat calon intelektual dicetak. Menyimak
apa yang terjadi dinegara ini, mencerminkan keamburadulan sistem yang
dimulai dari lapisan dunia pendidikan. Mahasiswa sebagai penerus
generasi bangsa, secara tidak langsung telah terpapar dengan ketidak
disiplinan dari pendidik mereka.

Implikasi dari ketidak disiplinan seorang dosen terhadap waktu, telah
memberikan pembelajaran negatif kepada mahasiswanya, ketika mahasiswa
tersebut telah bekerja atau berada dilingkungan masyarakat maka tidak
akan risih atau merasa bersalah dengan keterlambatan datang saat
rapat, lambat datang saat bekerja dan lambat datang saat pertemuan
dengan jadwal yang telah disepakati, sebab dibenak mereka janji dan
komitmen hanya sebatas wacana yang tidak perlu ditanggapi serius.

Sebagai penerus cita-cita pejuang bangsa yang telah gugur, maka
mahasiswa jangan hanya diam atas ketidak disiplinan, aturan buat
disepakati bersama, bukan hanya berlaku pada kaum yang tertindas dan
lemah, tetapi untuk semua yang tercakup dalam kebijakan tersebut. Kita
memiliki azas demokrasi, bebas mengemukakan pendapat, untuk itu
tanamkanlah sikap kritis seperti Tukijan demi perubahan yang lebih
baik dimasa yang akan datang.

Artikel Terkait Lainnya :



Comments
0 Comments
Widget edited by fmhi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...